Jumat, 30 September 2011

Hikmah Gempa Tasikmalaya

Oleh DR. MS. SHIDDIQ AL-BANJARY, M.Si
MEDIA PUBLIK - JABAR. Siapa menyangka, gempa berkekuatan 7,3 skala richter itu datang tiba-tiba. Pada siang yang menyengat di bulan Ramadhan yang mulia. Mengguncang kawasan Tasikmalaya, Cianjur Selatan, Ciamis, Cirebon, Kuningan hingga Bandung Barat dan hampir sepanjang Jawa Barat Selatan, Jawa Tengah Selatan. Bahkan getarannya terasa keras sekali di Jakarta dan beberapa daerah di Pulau Jawa.

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Jumat (4/9), jumlah korban meninggal akibat gempa tektonik yang berpusat di Tasikmalaya, mencapai 59 orang. menghimpun data tersebut di sembilan kabupaten di sekitar pusat gempa.

Korban terbanyak tercatat di daerah Cianjur yang mencapai 22 orang, bahkan 37 orang dilaporkan masih hilang. Sementara warga yang mengungsi mencapai lebih dari 25 ribu orang. Tersebar di delapan kabupaten.

BNPB juga mencatat, setidaknya 10.000 unit rumah rusak berat. Data ini belum termasuk kerusakan ratusan fasilitas umum seperti sekolah, tempat ibadah, dan kantor.

Apa hikmah di balik bencana?

Gempa, adalah salah satu di antara jutaan bahkan milyaran bentuk bencana yang diciptakan Tuhan untuk makhluknya. Tak ada bencana yang tak memiliki makna tertentu. Ada hikmah luar biasa dari setiap bencana yang ditimpakan Tuhan kepada kita.

Gempa, misalnya, selain menunjukkan betapa tidak berdayanya manusia di hadapan Sang Pencipta, juga mengindikasikan bahwa tak ada satu teknologipun yang bisa mencapai prediksi 100 persen akan mampu mendeteksi kapan bencana akan terjadi, kecuali hanya sebagian kecil saja.

Gempa Tasikmalaya, dan hampir setiap peristiwa bencana memunculkan semacam kesalehan sosial antar sesama, meningkatkan kepedulian, dan menumbuhkan semangat kebersamaan, saling menolong, saling memberi, dan hikmah terbesar adalah meningkatkan kesadaran spritual, bahwa apapun yang diinginkan Allah, kapanpun Dia berkendak, tak ada yang bisa menolaknya. Tapi satu yang pasti, bahwa bencana (apapun bentuknya) adalah salah satu manifestasi ujian yang akan diberikan kepada ummatnya yang mengaku beriman, sebagaimana ditegaskan dalam alqur'an "Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan bahwa mreka telah beriman, dan mereka tidak diuji (tentang pengakuan keimanannya itu?)..."

Akhirnya, kita hanya dapat bermohon kepada Tuhan yang memiliki segala Kekuasaan untuk memperbaiki segera memulihkan trauma sosial maupun batin para korban yang tertimpa musibah itu. Amin. Wallahu A'lam.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar